Senin, 10 November 2014

Daun

Aku tak tahu aku dimana ketika selembar daun yang tak kutulis namun bergaris berbaring lemah diantara kejam dan angkuh nya bebatuan.
Tanpa angin sang daun terjatuh begitu lemah sudah diranting yang tak lagi mengacuhkanya dengan ratapan batang pohon yang begitu iba saat aku tak tahu aku dimana.
Goresan garis yang tak tertulis dipunggung daun tak lagi kekar menghitamkan hijaunya rapuh kering dan rusak meski hujan turun membantu saat aku tak tahu aku dimana.
Lapuk sudah dalam serat tanah entah mungkin dia bahagia disana entah mungkin dia menunggu aku yang baru saja menyapa dunia saat aku tahu aku dimana.
Bukan maksud menyisihkan sang daun hanya pengertian kata mati sebuah kenangan yang tak pernah terbuat hanya sebuah nama walau ada namun tak setara makna untuk bersama.
Kupetik dua bunga satu untuk temani dia walau entah terbutuh atau tidak dan pada yang satunya mengenai sebuah rasa mungkin bermakna untuk menyetarakan setara.
Aku malu tak ku tepati janji  saat aku tahu aku dimana walau aku lupa apa yang ku ucap saat aku tak tahu aku dimana dengan kalimat tanya karena itu sang daun pergi mati.
Pula ku buruk ingatan sebuah paham garis yang tak tertulis kira ku itu jalan temui kematian sangka ku itu melebihi teman lukiskan senyum dari aku punya keseharian.
Sumpah kan aku menjadi batu dengan angkuh kejam diam sikapnya terujung lapuk meski sulit cukup kekal sumpahnya hujan pun menyerah jadikan aku dingin dan diam.
Kepalkan aku hingga lenyap jadikan aku air yang berteman hujan tak harap lagi lapuk namun tetap aku kalah aku tergenang tak meresap gagal melirik kehidupan kematian.


Senin, 20 Mei 2013

ibu part. 42



Tak mampu ku dengar doa mu saat rahim menyelimutiku,
Dengan lembut mengusap aku dibalik dinding kulitmu,
Bersama doa harapan impian tak henti terucap untuk ku,
Walau begitu teramat sakit tetap kau berperang demi aku,
Ku ingin mendengar tangis awal ku,
Karena ku yakin itulah doa mu dari teriakan ku,
Bersamaan dunia mencatat semua itu,
Dan karena mu ku wujudkan catatan itu,
Ingin ku rasa pelukmu ketika ku bernafas diantara air susumu,
Yang mungkin kau rindu saat ku mulai merancang langkah hayatku,
Langkah yang menyadarkan ku bahwa engkaulah malaikat ku,
Yang tak pantas ku bahagia tanpa kehadiran mu,
Telapak kakimu itu masa depan,
Pelukan mu itu kebahagian,
Kepergian mu, jangan,
Ku tak ingin kehilangan,
Sebelum aku membuat mu berdiri dari kenakalan yang ku berikan,
Sebelum aku membuat mu bahagia menjawab doa yang kau panjatkan,
Sebelum ku berteriak dengan bangga dari siapa aku dilahirkan dan dibesarkan,
Dan sebelum kau ajari aku kehidupan walau pasti kan dirasa kehilangan,
Tak akan ada angka tuk mengganti pengabdianmu,
Tak akan ada logika tuk melukis kasih sayangmu,
Tak akan ada cerita tanpa cinta yang tak berujung darimu,
Tak akan ada keindahan tanpa ku menggenggam tanganmu,
Aku tak akan tahu siapa aku tanpa dirimu

Kamis, 13 Desember 2012

.......

you always been friend with the small flame,
to make a meal with your imagination,
altough i just saw on television,
and when you cook make my bored disappear,
the reason i love you,
the reason i like you,
the reason i want you my inspiration,
at the time of my bored always present your name,
in the each of my sleep expect you to be present in my dream,
but i'm afraid i can't wake up when you came,
and i really want to saw you singing and cooking together,
you're ideal lady easy to love from people like me,
i hope it will become a real of all that's in my head about you,
hoping not merely hope,

cek this video http://www.youtube.com/watch?v=xtU77dQZXA0

Sabtu, 08 Desember 2012

ibu part. 41

Teriak, langit hanya memberi ruang,
Hanya menyaksikan apa yang tertuang,
Tangis, langit tetaplah terdiam,
Hujan pun telibat gambaran luka terdalam,
Dengar, apakah terdengar?
Tangis, apakah tertangis?
Lihat, apakah terlihat?
Harus berkata apa?
Perih semakin merintih,
Luka semakin terluka,
Pantaskah tuk membenci,
Usai pergimu yang menyisa duka,
Sendirian merasakan luka,
Sendirian merasakan kerinduan,
Sendirian mengusap tangisan,
Sendirian melangkah sendirian,
Keegoisannya mengalahkanku,
Sebelah mata pun tak terpandang siapa aku,
Apalagi memandangmu siapa dirimu siapa aku,
Yang telah berlalu,
Hak ku terabaikan darimu,
Mereka gunakan semaunya,
Kewajiban ku hanya kedipan,
Tak akan mereka berikan,
Disaat ini wajar ku membutuhkan,
Disaat ini seharusnya ku dapatkan,
Disaat ini memang pantas ku memerlukan,
Kasih sayang darimu yang telah terkubur bersama dirimu,

ibu part. 40

Ku ingin menyimpan air matamu setelah kau lihat tangisku,
Ku ingin nyanyikan nasehatmu setelah kau dengar doaku,
Ku ingin melukis dirimu setelah kau pandang dalamnya rinduku,
Ku ingin memeluk dirimu setelah kau rasakan kumenulis namamu,
Namun air mata mu tak ku ketahui dimana,
Dan nasehat mu tak ku ketahui entah kemana,
Serta wajah mu tak ku ketahui ku lukis dengan apa,
Hanya doa mengetahui aku yang tak henti ingin jumpa,
Datanglah di tiap sisi lemahnya tubuhku,
Ajari aku tuk menerjang semua rinduku,
Tunjukan jalan tuk mampu menjemputmu,
Berikan tanganmu tuk slalu ku genggam selama hidupku,
Disaat semua terlelap ku coba tuk berkaca,
Mungkin kau ada dipantulan ku bercerita,
Disaat terang terbuka ku sembunyikan yang ku coba,
Agar ku terlihat tegar dalam paksa sebuah tawa,
Ku kan menunggu akhir dari tangisku,
Ku kan bertahan dari kejamnya rinduku,
Ku kan berdoa menemukan tempat terindah,
Menjemputmu menceritakan ku yang ingin menyerah,

ibu part. 39

Aku telah terbunuh oleh rangkaian kata tuk alihkan perihku,
Dengan pena tajam bertinta merah mewarnai lembar lukaku,
Satu judul terbuat untukmu dari jutaan rindu alihkan materiku,
Dan begitu banyak noda hitam merubah doa untukmu,
Sampaikanlah melalui angin bila ku terlupa mendoakanmu,
Tegurlah melalui mimpi bila ku terlupa mendoakanmu,
Meski sekilas kau memelukku diantara perihnya lambungku,
Hanya air mata dan tetap airmata mendengar namamu,
Gema takbir terus mengiris keinginan dan harapan,
Menyaksikan keterharuan dibalik makna takbiran,
Sepanjang hidupku ku tak akan pernah mendengar seruan,
Darimu yang terkadang doa terlupa tak terpanjatkan,
Namun kau tegur melalui keinginan hati,
Melihat namamu diatas kejantanan sejati,
Meski tak terlihat oleh keluhan hati,
Kata positif memutar ingatan di pedih belati,
Masih kah ampunku membuka pintu tuk mengingatmu,
Masih kah ku pantas berdoa dan berdoa untukmu,
Kuharap kau tersenyum disana melihat kenistaanku,
Dan kuharap aku selalu tersenyum dihikmah doaku untukmu,

ibu part. 38

Ku ingat kala usai gema takbir,
Begitu perih melangkah dengan kembang merah,
Tak sempat ku riuh alir air,
Hanya sesal melihat gersang taman mu yang megah,
Mendung senja ini telah senyumkan hara,
Terus berteriak dalam dimensi yang berbeda,
Walau sekejap hujan ini ingatkan aku padanya,
Berharap menghijau taman dibalik sebuah nama,
Mampukah kau peluk mimpiku dari yang terjadi,
Mampukah kau menuntunku dari kebodohan di sini,
Dikala aku tak diizinkan berperang dengan buku,
Dikala aku rapuh tak mampu temui inginku,
Hingga kini ku hanya lelah tuk terlelap,
Menunggu nasihatmu dalam gelap,
Namun tanggung jawab mengelak aku yang mengucap,
Dan kembali ku terlelap menunggumu dalam gelap,
Melihatkah kau keegoisan terekam dimataku,
Dari kekuasan tertua yang berdetik menemukanmu,
Tak melihat ku dari kecilnya harapanku,
Harapan tuk buktikan perjanjian untuk ku,
Enggan ku jawab kemana langkah pena ku,
Enggan ku jawab dimana langkah keringatku,
Karena terabaikan pemberontakan diamku,
Dari kesombongan mereka yang enggan melihatku,
Sosok namamu sangat bermakna dari kata perhatian,
Bagi mereka yang dalam ranjang keterpurukan,
Berbeda dengan ku hanya melalui sebuah catatan,
Yang harapkan datang kasih dan cinta yang tak terwujudkan,