Sabtu, 08 Desember 2012

ibu part. 38

Ku ingat kala usai gema takbir,
Begitu perih melangkah dengan kembang merah,
Tak sempat ku riuh alir air,
Hanya sesal melihat gersang taman mu yang megah,
Mendung senja ini telah senyumkan hara,
Terus berteriak dalam dimensi yang berbeda,
Walau sekejap hujan ini ingatkan aku padanya,
Berharap menghijau taman dibalik sebuah nama,
Mampukah kau peluk mimpiku dari yang terjadi,
Mampukah kau menuntunku dari kebodohan di sini,
Dikala aku tak diizinkan berperang dengan buku,
Dikala aku rapuh tak mampu temui inginku,
Hingga kini ku hanya lelah tuk terlelap,
Menunggu nasihatmu dalam gelap,
Namun tanggung jawab mengelak aku yang mengucap,
Dan kembali ku terlelap menunggumu dalam gelap,
Melihatkah kau keegoisan terekam dimataku,
Dari kekuasan tertua yang berdetik menemukanmu,
Tak melihat ku dari kecilnya harapanku,
Harapan tuk buktikan perjanjian untuk ku,
Enggan ku jawab kemana langkah pena ku,
Enggan ku jawab dimana langkah keringatku,
Karena terabaikan pemberontakan diamku,
Dari kesombongan mereka yang enggan melihatku,
Sosok namamu sangat bermakna dari kata perhatian,
Bagi mereka yang dalam ranjang keterpurukan,
Berbeda dengan ku hanya melalui sebuah catatan,
Yang harapkan datang kasih dan cinta yang tak terwujudkan,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar