Aku tak tahu aku
dimana ketika selembar daun yang tak kutulis namun bergaris berbaring lemah
diantara kejam dan angkuh nya bebatuan.
Tanpa angin sang daun
terjatuh begitu lemah sudah diranting yang tak lagi mengacuhkanya dengan
ratapan batang pohon yang begitu iba saat aku tak tahu aku dimana.
Goresan garis yang
tak tertulis dipunggung daun tak lagi kekar menghitamkan hijaunya rapuh kering
dan rusak meski hujan turun membantu saat aku tak tahu aku dimana.
Lapuk sudah dalam
serat tanah entah mungkin dia bahagia disana entah mungkin dia menunggu aku
yang baru saja menyapa dunia saat aku tahu aku dimana.
Bukan maksud
menyisihkan sang daun hanya pengertian kata mati sebuah kenangan yang tak
pernah terbuat hanya sebuah nama walau ada namun tak setara makna untuk
bersama.
Kupetik dua bunga satu
untuk temani dia walau entah terbutuh atau tidak dan pada yang satunya mengenai
sebuah rasa mungkin bermakna untuk menyetarakan setara.
Aku malu tak ku
tepati janji saat aku tahu aku dimana
walau aku lupa apa yang ku ucap saat aku tak tahu aku dimana dengan kalimat
tanya karena itu sang daun pergi mati.
Pula ku buruk ingatan
sebuah paham garis yang tak tertulis kira ku itu jalan temui kematian sangka ku
itu melebihi teman lukiskan senyum dari aku punya keseharian.
Sumpah kan aku
menjadi batu dengan angkuh kejam diam sikapnya terujung lapuk meski sulit cukup
kekal sumpahnya hujan pun menyerah jadikan aku dingin dan diam.
Kepalkan aku hingga lenyap
jadikan aku air yang berteman hujan tak harap lagi lapuk namun tetap aku kalah
aku tergenang tak meresap gagal melirik kehidupan kematian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar