Yang telah melihatmu tak teringat tentangmu,
Yang telah membesarkanmu sulit tuk mengingatmu,
Yang dahulu membisu kini berteriak tentang rindu,
Tentang kepergianmu yang seharusnya pedulikan hal itu,
Senja yang hitam mungkin gambaran perasaan ini,
Menikmati penasaran yang tak henti terhampiri,
Dan rapuhkan langkah karena rindu yang tak henti,
Hanya rangkaian ini dan doa doa yang mampu kuberi,
Hanya aku yang menangis dari pengulangan sebuah masa,
Yang tak akan terulang peristiwa air mata yang sama,
Dan kain putih melipat semua kenangan yang tak tercipta,
Lagi dan lagi hanya air mata yang mampu ratapi derita,
Tak mungkin ketajaman pisau menebus rangkaian rindu,
Tak mungkin lilitan pita membayar jutaan benalu,
Yang selalu melekat dan merancang kata bertemu,
Dan bukanlah pita dan pisau jadikan jalanku tuk menemuimu,
Apa yang kau lakukan disana bila tertengok tanggal ini,
Apa yang kau harap ketika hanya segumpal perih disini,
Ku tak sanggup temuimu karena takdir masih enggan temani hati,
Hanya ditemani kata rindu yang tak henti mengundang belati,
Hanya tangis bila bulan merekam kejadian yang membenang,
Hanya perih bila mentari ceritakan sejarah yang tertuang,
Hanya diam tanpa jawaban bila ku meminta yang terkenang,
Hanya mimpi bila aku mampu memelukmu yang telah hilang,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar