Pernah ku bertanya makna seuntai nama,
Pernah ku menangis menanti segulung cerita,
Dan pernah ku menggila mengganti sebuah tanda,
Namun tak pernah ada cerita yang tandai guratan nama,
Termenung ku pejamkan mata menjawab alunan kisah,
Walau kepastian meragu kesimpulan yang entah,
Biarkan rindu meredup dari jeritan kalbu yang lelah,
Dari pergimu yang tinggalkan tanya dalam jiarah,
Separuh bulan menunggu hari hari perjuangan,
Dikala itu tangisan pertamaku engkau dekapkan,
Saat keindahan senja akan purnama yang lenyapkan,
Tak seperti mereka aku hanya dirumah yang kau tinggalkan,
Semakin ku bersedih para saksi hanya ingat masehi,
Ku satukan dua tanda pada makna yang terberi,
Teryakin hari berpasti namun nama tak ku ketahui,
Dan jawaban telah kau kemas ketika kau pergi,
Pengelusan lembut para tamu usapi kulit suciku,
Tak mampu ku ingat hingga sebuah batu menulis namamu,
Aku tetap terusap saat tamu menangis dirumahku,
Namun tak ku tampung air mata itu tuk menatap masa lalu,
Dinding halus yang berkilau selalu memisahkan kita,
Perasaan yang sama pastikan ada dalam bedanya dunia,
Keinginan pun tak henti walau mata tak pernah jumpa,
Tuk mendengar ucapan pertemuan hari kelahiran darimu dalam agama,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar