Berat hati ku menghitamkan tinta merah yang mencuat,
Lemah jemari ku lunturkan kalimat yang melekat,
Beku lengan ku menghancurkan kanvas yang menyurat,
Kuat ingin ku pamerkan rangkaian yang terbuat,
Keikhlasan yang sembunyi dari strategi pertempuran,
Merancang energi dari lemahnya teriakan syetan,
Terpampang pedang berlidah kebenaran pada penyaksian,
Saat menunggu waktu pencarian materi sebuah tujuan,
Membuka pikiran untuk merubah tulisan pada makna,
Namun katup mata menyimpan salinan yang tercipta,
Hingga tersamar teriakan sang dusta pada telinga,
Memperkarat pedang yang tak berselimut cinta,
Kuharap debu nyanyian dosa tak melekat dalam luapku,
Semoga rintik hujan dari doaku menegarkan rinduku,
Maafkan aku mengeluh tentang dirimu dari kebodohanku,
Tersadar garis hidup takkan mendengar kenistaanku,
Kuyakin kau pasti menyiapkan kehangatan disurga pelangi,
Dan memelukku tuk obati garis yang tak terkira kan terberi,
Hanya menunggu sulaman kain putih yang berjanji,
Yang menghangatkanku dari balasan penyakit hati,
Dan kau antarkan aku ke tempat yang telah tertumpuk suratku,
Yang kau jadikan benang tuk membakar serpihan rindu,
Dan disana kau jahit sejuta jawaban tuk hangatkanku,
Selimut menunggu dan kain melipatku diatas pangkuanmu ibu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar