Gambaran bentuk hati tak berwarna sulit tuk dimengerti,
Entah selapang samudra menahan buih yang berlari,
Atau setitik bintang yang terlasut di jauhnya mimpi,
Meskipun setitik bintang padati selapang hati ini,
Takkan terjawab karena paten rusuk masih melindungi,
Menutup mata pena tuk melukis cerminan hati,
Perlindungan tak hasuti perasaan yang terjadi,
Hingga tinta merah terus melubangi hati ini,
Dengan linang kerinduan yang merobek hari,
Bersama ragam kepedihan yang menikam nadi,
Terus menggali menghabisi kelapangan ini hati,
Sebagai gambaran hidup saat malaikat ku pergi,
Mungkin hati ini menyalin peran sang mentari,
Hingga panas serasa menusuk mata dengan belati,
Terlantun ke hati ketika matahari tak hangatkan diri,
Seperti luka yang membakar kesesatan remukan hati,
Walau mimpi bernyanyi dari tidur yang menari,
Dan mampu kristalkan panas yang terberi,
Dingin tak henti bekukan rindu yang mandiri,
Terjalin ditiap bintang mentari silih berganti,
Ku tak mampu membuang perubahan wajah yang diberi,
Dengan pertumbuhan usia yang tak bisa dikurangi,
Hingga pikiran kosong kala dini takkan kembali,
Tuk tidak merasakan luka saat engkau pergi,
Tak teringat air susumu yang buatku membisu,
Tak teringat belai kasihmu yang buatku pilu,
Tak teringat kecupanmu yang tak hentikan rindu,
Hanya teringat batu kelabu yang mengemaskan namamu,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar