Sabtu, 08 Desember 2012

ibu part. 24

Adakah air mata yang menceritakan rasa tanpa lisan dan tinta,
Lidah benci memimpin terangkai lisan dengki dalam hati,
Berbait rindu berima luka dalam nyata dengan makna tanya,
Kedipan mata jawaban sementara ketika air mata membasahi,
Lukisan kalimat luka dengan tinta merah kian rapuh,
Usai orasi pena duka munculkan pedih ketika terbaca,
Tetesan air mata lucuti kanvas alas pena dan tinta merah,
Tak jua terbentuk wajahmu hanya ada pudaran warna luka,
Hati ini seolah terhimpit dari tawa setan yang menggenggam,
Terusik telinga bisikan nista dalam gerak berikan sebuah dusta,
Menggumpal kata niat dari diri namun hati semakin keram,
Tentang kerinduan tentang kepedihan di dalam jiwa,
Cepat nada irama mengetuk lupakan luka yang terkutuk,
Mimpi nyata hiburkan hati menjadi bintang dalam kantuk,
Namun lengkingan suara merdu dalam larik lembut irama,
Kembalikan luka dengan makna nada undang tangis dari lemah telinga,
Dari pejaman mata tak terlihat catatan ini disana,
Apakah kau sembunyikan agar ku tak melihat air mata,
Atau memang tak terbaca dan tak bermakna di lain dunia.
Atau mungkin kau biarkan ku dalam tangis dari luka dan duka,
Dari mu aku terlahir ada dan dari mu air mata tercipta,
Tanpa mu ku tak ada dan kepergianmu sembunyikan cinta,
Adakah kata bahagia itu ada ketika ku nikmati luka,
Adakah duka itu lenyap dan senyumku tetap mencitra,
Dimana dan dimana duka dan luka harus terpisah,
Berikan pedangmu tuk tebaskan itu yang telah meresah,
Tertawa dalam sedih karena hanya sebuah hayal yang memang susah,
Untuk terwujud dan tetap luka tertentang dalam licik tinta merah,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar