Sabtu, 08 Desember 2012

ibu part. 23

Dengan kebodohan tanpa kesadaran,
Dari kecerdasan dalam ketenangan,
Yang mengintai hati berujung keinginan,
Kini telah membeku dalam darah suratan,
Tak terbayang bentuk air matanya,
Ketika harus rasa rindu menjadi media,
Entah apa yang terjadi pada dirinya,
Ketika pelukan tak terdekap jiwa,
Apakah terbaca berlantas balasan sebuah catatan,
Mungkinkah tertitip pada malaikat idaman,
Haruskah menyuruh tanah tuk menghidupkan,
Kan kurelakan setengah nyawa bila itu jaminan,
Tak berharga mata ini,
Karena tak mampu melihatmu dikala kemarin kini dan masa depan,
Tak bermakna lengan ini,
Karena tak mampu menyentuh dan menggenggam dikala terusap usai dan akan lelapan,
Tak berjasa dahi ini,
Yang tak pernah terasa pengelusannya dikala harus terjadi mimpi buruk yang tak bisa dibatalkan,
Dengan kelemahan ku kuatkan hati meski harus perih jumpai kemenangan,
Tetap ku nikmati waktu meski entah kau ada disampingku,
Tetap ku jalani hidup meski entah kau ada tuk menuntunku,
Tetap ku rasakan rindu meski entah kau menangisiku,
Tetap ku harus menunggu pelukmu ketika mata memandang dunia,
Hujan deras disenja awan hitam mengundangnya,
Malam memaksa dingin dari angin yang riuh,
Sekilas terpampang purnama ketika awan hitam disekitarnya,
Pelangi kecil tercipta dari spektrum benturan cahaya bulan dengan kelabu awan yang berjalan,
Haruskah disana ku beri setengah nyawa?
Aku tak tahu dan tak tahu untuk memelukmu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar