Sabtu, 08 Desember 2012

ibu part. 22

Terdangak leher benci ke angkasa,
Meratapi pertikaian aura awan dengan jemputan purnama,
Karena rotasi bumi dari mentari yang memberi warna,
Menanti kegelapan dari perih yang menghitam jiwa,
Ratapan awan yang sangat dinantikan,
Membentuk ucapan awan dengan penuh harapan,
Beselir keajaiban dengan makna pendewasaan,
Namun menjadi gelap karena rotasi yang memenangkan,
Ku hitung kereta putih dengan senyum dikala dini,
Mengantar semayam berbaur duka dalam lipatan kain suci,
Semakin teriris hati ini dengan rel yang berdiri,
Menjemput duka dan tinggalkan suka ditiap hari,
Menjelma kah kau dalam selendang bersimbol wanita,
Terkirim kah suratan dari mu untuk ku yang menderita,
Atau kah itu hanya halusinasiku yang mengharapkan kau ada,
Dan ku harap kau hadir dibalik hati selendang jingga yang kupinta,
Kembali terulang pertandaan waktu dari hari hadirku,
Berpasti tak ada bingkai indah dari pengertianmu,
Senyumi perhatian teman dengan perih yang menjalu,
Dan terharus ku berwajah murung untuk mengingat mu,
Ku menunggu bingkisan biru dan ucapan dari legukan kertas putih,
Berisi kalimat penyejuk hati dari kerinduan yang merintih,
Dari congkaknya angin yang berpatih lenyapkan pita suci karena teralih,
Mengunduh perih kehampaan hati yang tak letih tuk bersedih,
Goresan luka kalbu mengharapkan hadiah darimu,
Tuk landasi riang pendewasaan yang kan membuku,
Namun keindahan bidadari hambatkan kerapan itu,
Hingga dalam penundaan tangisan tercipta karenamu,
Kan berdiri ku di himpitan malam dalam kesunyian tentang kelahiran,
Dengan mata terpejam kurasakan kesakitan dalam hati yang tertekan,
Dari kegetiran jemari menikmati suara mu dengan pikiran yang mengutarakan,
Namun hanya hayalan tuk redakan tangisan yang tak kunjung kebahagian,
Aku menangis tak mampu ku lihat dirimu saat pertandaan usiaku,
Aku bersedih tak merasakan hadirmu ketika ku harus tersenyum dengan hariku,
Dan aku menyerah karena takkan terpandang dirimu sepanjang benciku,
Serta ku rapuh lemah tak berdaya menahan rindu padamu,
Kan ku gelar kain putih tak berbenalu namun terpaku,
Sobekan nadi bertuliskan darah tinta dari tajamnya belati,
Merindukan kalimat perih sepanjang waktu dari ibundaku,
Terhadap inti kalbu yang tak mendengar kata ini,
Selamat ulang tahun anakku...





( di buat pas gua ulang tahun yang ke 18 tepat pada tanggal 25 januari 2012 :D )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar