Ku mengerti kau takkan hadir dalam mimpiku,
Karena akan membuat ku enggan tuk buka mata,
Dalam lelapan yang entah apakah kau ada disampingku,
Namun takkan terasa dari lenyapku yang sementara,
Apakah terhalangi warna bentangan pelangi dibumi,
Hingga kau tak mampu senyumkan hati ini,
Ataukah gelap awan bertabur kilat yang terangkan sejenak,
Halangi pertemuan kerinduan yang tak pernah beranjak,
Keterlambatan ku dalam makna formalin,
Yang seharusnya mampu tegakanmu dalam lilin,
Takkan terlaksana kemungkinan itu,
Karena memang telah lenyap jasadmu,
Ribuan kata rindu dalam kain terangkai untukmu,
Dan ku bakar kain itu agar kau rasakan panas hatiku dari api rindu itu,
Serta ku larut kan dalam luas air garam agar kau rasakan tetes air mati ini bersama ombak yang berirama,
Bahkan ku layangkan kain itu ke penjuru dunia agar semua tahu aku jatuh merindumu,
Mengapa suratan kecil ini tak terbalas,
Apakah malaikat lelah menyampaikannya,
Ataukah hikmah yang bersembunyi dibalik kata tanya,
Tidak ada jawaban dalam keresahan jiwa dikala lelah mengintai raga,
Mungkin tertulis takdirku akan perih ketika ku lelap dalam tubuhmu,
Dan saat ku terbangun lantas engkau pergi menyetujui kalimat itu,
Tak memikirkan aku yang selalu tangisi kepergianmu,
Mencari cahaya terang dalam kerinduan akan dirimu,
Terdiam ku saat hati dan pikiran berperang,
Menyelaraskan iblis yang mengerang,
Tentang kerinduan yang selalu mendatang,
Namun terbalas dengan rangkaian kata yang menantang,
Dengarkan aku saat aku membisu,
Ku menunggu surat kecil balasan rindu,
Kan ku tunggu hingga sampai tak kunjung balasan itu,
Dan biarkan kau yang harus menjemput ku,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar