Ribuan pesan tertunda dalam hati karena lidah tak memberi,
Berdiam menjamur benalu dalam kalbu yang terubah berkias benci,
Tetap tertunda karena mata tak menyimak dalam situasi,
Bertabur benci dan benci dalam hati ini yang tak pasti,
Terlalu ku mendambakan keindahan selendang pelangi,
Yang tak memberi senyum pada diri ini yang bermimpi,
Meski tergenggam dalam hari kerenggangan ilmu yang diberi,
Namun kebusukan muncul darinya karena tak mengerti sikap ini,
Tersesal berbias benci darinya mengunduh rasa rindu,
Tuk mencurah kan hati yang tak pernah dimengerti,
Semakin membenci karena rindu itu telah menjadi batu,
Sebab tak kan mengerti arti benci dalam diri ini,
Kan ku tiup tulangmu dengan rindu ku untuk ku tegakan,
Dan ku indah kan wajah mu dari suci kesabaran ini,
Serta ke berikan jantung ini agar kau kembali dalam kehidupan,
Namun takkan ku beri hati ini agar kau tak merasakan yang ku alami,
Apakah terdengar dan terwujud harapan ku ini,
Bila memang, kan ku beri tubuh ini tanpa hati,
Bila tidak, apakah ada yang mengerti hati ini,
Gelap dan tersesat dalam benci yang tak berarti,
Dari kepergian mu kau ajar kan aku kesedihan,
Atas nama mu kau beri aku kerinduan,
Dengan dirimu itu hanyalah khayalan,
Tanpa dirimu seumur hidupku adalah beban,
Meski sempat berlari mengejar impian,
Ku yakin ku takkan tersenyum menggapai impian itu,
Karena kau tak hadir dalam penggapaian itu,
Mengundang ku tetap menyendiri dalam keramaian,
Adakah jalan yang ku tempuh agar ku mampu bertemu,
Meski api menjadi dasar jalan itu tetaplah kan ku raih,
Atau jalan yang berduri dalam caci maki dari kalbu,
Dan tetap ku melangkah walau diberi sedih dan perih,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar