Sabtu, 08 Desember 2012

ibu part. 19

Sepenggal rajutan tangan ketika tinta ku dentingkan dengan jemari,
Nodai kanvas dalam kalung kalimat bergambar kan isi hati,
Tentangnya karena terkelupas hati ini untuk tidak membenci,
Namun ku gumpal dalam genggaman terhadap sikap ini yang tak ku mengerti,
Dari tanggungnya ku berdiri meratapi ketidak hadiranmu dalam hidupku,
Tak sanggup ku berbagi denganmu karena kebutaanku tuk melihatmu,
Tak kan mampu ku bersandar dalam pelukmu dari hayal yang selalu menunggu,
Dan hanya kebodohanku tuk selalu harapkan dirimu dalam kamarku,
Semakin bergetar tujuan itu selimutiku dalam ketakukan,
Karena seberkas tentangnya dalam tinta yang menjadi lawan,
Serta kepergianmu dalam paksaan tuntutkan perih dan kerinduan,
Namun kau tak pernah ada tuk pahami segelincir air kotor hati ini yang tertelan,
Dengan apa hilangkan busuk hati ini,
Atau mungkin hawa nafsu sedang mengitari,
Atau juga kau bawa rasa bahagia ku ini,
Hingga hanya perih yang kau beri,
Seperti ku rangkul bongkahan belerang yang membeku,
Dalam bahu ku yang layu dari asap panas gunung saat menggerutu,
Menapak jalan batu membawa rangkulan tuk hinggapi udara segar yang menunggu,
Untuk melepas rangkulan itu simbolkan perjuangan kalbu yang mengganggu,
Namun lenyap bongkahan itu karena embun yang membasahi,
Dan kembali ku merindu padamu yang telah pergi,
Menghiasi perih hati dalam pedih yang enggan berhenti,
Mengapa tak kunjung datang waktu tuk menjemputku agar ku bisa bersanding dengan mu diatas pelangi,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar