Sabtu, 08 Desember 2012

ibu part. 18

Kau bawa singgah kerumah bongkahan tempat tidur dari rumah sakit,
Dan kau berbaring lemah disana dengan tabung berisi air dan tersambung tali ke tubuhmu,
Entah apa yang kau rasakan dan pikirkan untuk ku dimasa depan aku tak mengerti namun kau tetap tak bangkit,
Namun ku tetap berlari lari tak mengerti dikolong tempat tidurmu itu,
Semakin ku heran orang orang kian datang bergantian,
Dan terkadang mengusap mata dengan selendang yang mereka kenakan,
Ku dengar suara isak tangis dari semua orang yang menyaksikan,
Namun ku tetap tak mengerti hingga ku terlelap dengan senyuman penasaran,
Dalam kekanakan ku bertanya mengapa ku dapat santunan,
Dengan senang ku terima meski tetap tak mengerti latar belakang mereka memberikan,
Dengan tampang polos ku bertanya apa yang terjadi padaku,
Terjawab malaikat mu telah pergi dan terdiam ku membeku,
Tak ku ingat wajahmu ketika mungkin ku mengecupmu,
Tak ku ingat kau terbungkus rapih dengan kain putih itu,
Hanya teringat bongkahan tempat tidurmu yang entah kemana,
Hingga saat ini semua tlah terjawab bersama perih yang ku terima,
Aku mampu tegar saat ku telah lelah mengingatmu,
Namun pudar tegar itu dikala ku bangkit mengingatmu,
Aku mampu sabar menahan rindu untuk bertemu,
Namun sabar ku tertukar benci dikala dinding hati kalah terbakar dengan rasa rindu,
Andai ku mampu menembus luas awan gelap bersama kilat yang berseteru,
Akan ada ribuan pelangi bersama para kurcaci dan bidadari saling bernyanyi,
Yang tak mampu ku genggam kebahagian itu bersama orang yang selalu ku rindu,
Dan ku selalu menunggu hikmah yang tak terbaca dari yang ku alami ini,
Dimanakah dirimu saat ini,
Apakah kau memudar dikala matahari menyinari,
Apakah kau tak terlihat dikala bulan bintang berperang dalam kegelapan,
Lihatlah aku kini tersayat jantung dan hati ini kian merapuh ingin menyentuh mu karena kerinduan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar