Apakah terharu ataukah bangga apabila tak terlakoni seperti biasa makna hari ini,
Meski memang semua menghargainya dikala kenakalan terubah menjadi janji,
Ini hari hanya peringatan bahwa kita mesti banyak berkasih,
Yang iringi langkah kita dengan doa dan tetaplah dia berhimpun tanpa letih,
Namun bagaimana dengan aku dan dengan apa ku mampu menyetuh,
Hanya kembang merah berbalur doa hiasi indah singasana,
Usai terhilang hiasan kembang mengapa aku selalu mengeluh,
Keluhan terhadap pertemuan yang tak terjamin berpelukan disana,
Kau pelangi yang tak terlihat dan bahagia yang tak berasa,
Kau kepedihan yang menyiksa tundukan perih suci air mata,
Kau dekapan yang merindu dan sentuhan yang hilang,
Dan kau tak terpandang mata namun tetap dalam hati yang julang,
Andai ku seperti kalian takkan ku lepas dekapan yang diberikan,
Takkan terlupa perhatian yang telah terlantunkan,
Takkan hilang kebijakan yang selalu menjadi pertimbangan,
Dan takkan nyata bagiku untuk terwujudkan,
Siang yang tak berbintang malam takkan tanpa kegelapan,
Laut yang takkan tenang dan danau yang takkan berombak,
Menjadi pandangan luas gambaranku dalam kehidupan,
Tentang kodrat yang berperang dengan keikhlasan dalam otak,
Tengoklah kebelakang pahami tujuan isi hatinya ke masa depan dikala itu,
Dan wujudkan keinginan hatinya apabila belum tergenggam impiannya,
Janganlah congkak ketika lembut nasihatnya atasi kenakalanmu,
Buatlah dia tersenyum dibalik kenakalan yang menjadi pertimbangan kita,
Tataplah jauh kedepan bahwa akan terasa kehilangan,
Rasa yang selalu dinikmati dalam satu kali kehidupan,
Rasa yang sulit untuk kurasakan karena memang telah tertelan,
Jangan biarkan dalam hatinya penuh dengan kebencian,
Sayangilah dia sewaktu mampu tersentuh,
Cintailah dia sewaktu mampu terlihat,
Jangan buat dia bersedih karena benci yang kau beri,
Berikan dia senyuman dikala tetap terbuka kata ampunan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar