Indahnya pantulan cahaya senandung senja dalam danau yang entah bermakna,
Senandung jingga mega bersama angin lunturkan sang pelangi,
Dan ku celup jemari dengan sangka mengundang ombak yang tak menggerang namun tertata,
Seperti mimpi yang bersaksi celotehan kembang malam bahwa mimpi itu tak kan terjadi,
Hanya bermimpi dikala lensa mata masih menikmati dunia,
Tentang mimpi yang tak terbeli dikala lelap kian lelah jadi saksi,
Genderang perang dalam hati tak meluluhkan pengganti merpati,
Mungkin terpenggal sang elang dengan janji janji diangkasa singasana sang purnama,
Semua telah tertusuk dan menyayat dalam hati ini,
Yang seharusnya bersama walau dia yang ajari ku melangkah,
Yang semestinya berbagi cerita walau tak dia ajari ku mengalah,
Dan selendang jingga penerus merpati yang menjadi sarana tempat ku berbagi,
Tak pernah kau ajarkanku bicara namun mengapa ku membisu saat ku dengar tentangmu,
Tak pernah kau ajarkan ku tuk tegar namun mengapa ku menangis saat ku mengingatmu,
Tak pernah kau ajarkan ku tertawa namun mengapa ku terluka saat ku mengenangmu,
Dan tak pernah kau ajarkan ku terangi kalbu namun mengapa dirimu buat ku pilu,
Langkahku yang membisu dan pandanganku yang menggerutu,
Membiuskanku dalam kekanakan dikala maut tengah mengelusmu,
Pendewasaan yang hantarkan langkah dan pandangan menjadi sebuah tujuan,
Tujuan yang selalu ada ditiap bait yang terangkai tentang mimpi yang tak bertuan,
Terlalu indahkah tempat tinggalmu disana hingga kau enggan tetesi lelapku,
Ataukah larangan tercipta disana sampai kau tak mampu baluri mimpiku,
Mungkinkah jua ku terlupa sebutkan namamu saat ku ucap serapuh mantra,
Ataukah mungkin kenakalan yang ku urai menjadi alasan terhambat jabahan mantra yang ku baca,
Aku merindu karena aku membutuhkanmu,
Aku menangis karena aku tak mampu menyentuhmu,
Aku bersedih karena takkan kembali kepergianmu,
Tolonglah aku, benahi dan selimuti kepedihanku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar