Adakah terekap ulang seutas sifat pada titipan,
Yang terangkum dalam tangisan ketika pendewasaan tertekan,
Atau mungkin tergabung pembawaan sifat yang telah tertelan,
Namun tak terdengar dalam persaudaraan dikala terancang kenakalan,
Dalam setetes tangis yang selalu menjadi tamu,
Selalu teringat namamu bagaikan paksaan tuk menjamu,
Terselip lembaran biru saat ku haus akan air susumu,
Adakah keikhlasan untuk lenyapkan kehausan dari lembaran yang telah meramu,
Mengapa kau pergi sebelum kau ajarkan aku keikhlasan,
Mengapa kau tak memberi pesan dikala aku akan berjalan,
Mengapa kau beri kepedihan hati disaat dirimu kurindukan,
Mengapa kau tak kembali dari kepergianmu melepaskan ku dalam kesebatang karaan,
Bersamaan mulianya hari ini dengan doa doa terpanjatkan,
Apakah kau bersedih melihatku rintih mengharapkan doa yang tak teraih,
Harapan yang memang tak akan nyata tentang keinginan ku berada dalam pelukan,
Pelukan yang menghangatkan ku saat kondisi berperang dengan problema yang membuatku letih,
Dalam dengkur lelapku dari keletihan tak kunjung hadir dirimu hiasi mimpi,
Tertendang emosi dari mimpi yang tak terbeli hadirkan benci ditiap pagi,
Terbakar benci pagi karena mentari meski tak berpelangi tetaplah kunikmati,
Hanya sesaat karena bintang telah menjemput lagi dan lagi bertarung dengan mimpi,
Sejauh mata memandang kepingan ombak tak melukiskan wajahmu,
Tuk tepiskan buih rindu yang telah merandu dalam kalbu,
Tengoklah cercikan rintih catatan kecil ini wahai malaikatku,
Temuilah aku dalam tidurku atau jemput aku bersama rindu ku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar