Tumbuhan sekitar dikala itu menjadi saksi,
Tentang hilangnya penjaga hati yang kumiliki,
Rimbun daunnya bagaikan gambaran doa,
Doa yang tersayat luka saat keterpurukan mengintai jiwa,
Tegar sang batang cerminkan perjuangan,
Untuk menendang ambang perasaan yang tertekan,
Kebahagian tersimpul dari ranting yang berjatuhan,
Tertolak rasa senang karena selalu terumbar harum kepedihan,
Dedaunan hijau yang kering lapuk berguguran,
Menandakan lelah hati dalam mimpi dari doa yang tak berujung perjumpaan,
Air yang menutrisi seperti lukisan hidup,
Tak mengerti isi hati ini yang sedang redup,
Yang mampu menghasil buah yang begitu segar,
Membawa ku bahwa aku mampu untuk tegar,
Namun dibalik penyinaran purnama dan matahari,
Sang akar menyimpan seluruh keinginan hati,
Yang menjadi penopang tak terkendalinya diri,
Hingga terangkup kata dalam emosi puisi ini,
Angin hujan badai gempar terik dan dingin,
Silih berganti tiap hari selama bertahun tahun,
Tetap lah berdiri tegak tumbuhan ini,
Bagaikan tak ada beban yang menghiasi,
Ku berharap mampu seperti itu,
Tetap tegar saat emosi menjadi ratu,
Dan terdekap terhadap orang yang dituju,
Namun bukan untuk pelepas hawa nafsu,
Ku kan tetap menikmati tumbuhan ini,
Meskipun dia hanya menjadi saksi,
Yang tak mampu wujudkan permintaan hati,
Karena ini hanya puisi lampiasan perasaan,
Tentang kerinduan terhadap orang yang ku inginkan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar