Bergetarlah hati yang terenung saat bibir tak berbisa mengumandangkannya,
Karna indahnya gema takbir agungkan keesaanNya,
Dan semakin indahlah bagi mereka yg menikmatinya dengan keluarga,
Berbanding terbalik dengan ku walau dalam mimpi tak kunjung tiba,
Sebuah keinginan yang tak terwujudkan,
Namun tertulis dalam tinta kepedihan,
Yang terangkum menjadi secercak nyanyian,
Namun suara hilang karna menahan air mata yang berhujan,
Butiran embun pagi telah hilang setelah ku panjatkan doa untukmu,
Yang seharusnya menjadi saksi abstraknya lukisan selendang jingga,
Karena pelangi tak terbentang yang akan membisikan mu,
Dan mentari telah merangkul di tengahnya konflik cerita,
Begitu indahkah dirimu dalam gelapnya kamar,
Hingga berkoar tanaman tanaman liar,
Menyedot jasad yang nyaris tumbuh rumput belukar,
Mengundang hati teriris dan tubuh gemetar,
Terpampang wajah indah saat tanah menjadi alas roda,
Entah congkak atau tak terpandang meski roda jadi saksi,
Diwaktu akan ku taburkan bunga merah dalam larutnya istana,
Yang kini terhias rangkaian indah puisi,
Lepaskan hela napas dan kupandang tanpa tujuan,
Kan ku lawan sedih hati yang terkadang jadi acuan,
Nikmati senyuman yang beralas tangisan,
Dan bersama kumandangkan di sungai putih yang menjadi tempat pertemuan,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar