Sabtu, 08 Desember 2012

ibu pat. 11

Ku tersesat dalam ambangnya rasa penasaran,
Yang selalu tergulung dalam resah kerinduan,
Pucatnya navigasi yang ku jadikan andalan,
Hilang karena pelangi tak bertuan,
Kemarau dan hujan silih berganti,
Dingin dan panas saling mengerti,
Merusak tanah yang tak bersalah,
Hancurkan jasad yang terserap tanah,
Bersama bintang malam ku bercerita,
Dengan bulan ku bersandar lelah,
Tak terjawab di setiap ruang gelapnya,
Karena siang malampun menyerah,
Hari hari berganti tanpa permisi,
Hingga santunnya rindu tak terkendali,
Semakin menyiksa penasaran ini,
Dan menangis karena obat tak terbeli,
Tajamnya pisau menghasut merobekan nadi,
Namun belum ada jaminan pertemuan bila terjadi,
Harus ku tunggu adanya dalam mimpi,
Sampai gelap dan mentari tak tertengok lagi,
Udara yang selalu kita hela bersama,
Berpeluang memberi penyegaran berbeda,
Karena ku berdiri tepat lingkari sumbu api,
Yang memaksa wujudkan kehendak hatì,
Ku selalu berharap berteman pelangi,
Saat ku hampiri istanamu yang akan ku alami,
Dan ku renggut selendang jingga,
Karena dia yang mampu redakan luka,
Wahai para malaikat tak berdusta,
Sampaikanlah padanya melalui sungai surga,
Jangan kau jatuhkan dalam lingkar neraka,
Karena hal itu semakin membuatku tersiksa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar