Sabtu, 08 Desember 2012

ibu part. 27

Membusuk daun merah menghilang kerikil putih,
Tersaji sebelum pintu hikmah tarungi yang terlatih,
Harap kasihi pergi doa hati dengan kembang perih,
Walau tumbuh jalang disisi penolakan dalam kasih,
Mungkin usai hari manjaku meski terdiam jawabmu,
Adakah harap darimu yang tak terdengar oleh kalbu,
Balasan abdi mungkin tuntutan pada waktu yang bisu,
Manjaku pastikan maju terhenti karena membatu namamu,
Dawai biru mainkan irama hingga terasa yang berbeda,
Apakah hadir dirimu dibalik paksaan hidup nada,
Langka teriaknya undang mata enggan membencinya,
Memang kuharap itu terbeli dari rindu yang tikam nyawa,
Ku tersesat dari kejenuhan yang tak menyapa,
Ku tertekan dari goresan tinta yang bercerita,
Dan ku tak ada dirham tuk menjemput sebuah kata,
Paksaan keringat pada gantungan jawat harapan seuntai makna,
Bila kau disini kebosanan terubah tawa,
Bila kau tetap disini kata bahagia melekat jiwa,
Bila kau tetap disini dan tak pergi mungkin sebuah tanya,
Apakah nyata atau air mata jadikan taruhannya,
Ku tak mendengar kau menyapa tapi tiba kata rindu,
Kau tak membawaku tuk bertemu tapi tangis menunggumu,
Ku tak melihat uluran tanganmu namun luka mengejar itu,
Mungkinkah kau tahu berdebu luka dan rindu tercipta untukmu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar