Sabtu, 08 Desember 2012

ibu part. 9

Tak akan mampu ku menjadi setetes air yang bisa meresap bumi dari lengahnya pori-pori tanah.
Untuk mencari seberkas cahaya yang gelap yang terpisah selama mata terbuka.
Dan tak akan mungkin partikel air dari bagian hidup dan tubuhku memberikan cahaya untuk kembalikan wajahmu.
Yang telah membeku dari panasnya inti bumi dan telah menghitam dari dinginnya setiap malam.
Hingga embun bersinggah disetiap fajar dalam istanamu yang berkilauan makna bahwa aku sangat merindukanmu.
Terbatasnya jantungku tak mampu kuselipkan dalam tulang tulangmu yang rapuh dan mungkin telah hilang dari sekongkolnya akar tumbuhan dengan hewan hewan penikmat bau pembusukan.
Jernihnya aku yang menjadi air tak bisa membasuhkanmu menjadi harum dan mewangi.
Sehingga tak perlu ku bawa bunga yang harum dari gersangnya gurunmu.
Dan sejuknya air tak mampu menjanjikanmu tuk berdiri tegak agar kau mengetahui makna dari puisi yang ku rangkai ini.
Dan air tak akan menghidupkan jiwa raga dan nyawamu.
Dan aku tak akan mungkin menjadi air yang lenyapkan singasanamu.
Berkilaunya bulan ini tidak bisa kurasakan mataku terbuka oleh sentuhanmu.
Menjelangnya gelap tak kunjung datang pelukanmu.
Dan selalu akan ku tunggu perasaan itu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar